You are here
Nasional News 

Bagaimana Televisi Beradaptasi Kala Bersaing dengan Media Sosial

SURAKARTA – Media sosial bak pisau bermata dua yang terus melekat dengan kehidupan manusia. Asupan informasi sepanjang 24 jam nonstop membuat manusia bergantung pada media sosial untuk mencari informasi terkini.
Sepanjang satu dekade terakhir, media sosial telah menggeser hegemoni televisi, yang selama ini menjadi salah satu sumber informasi terpercaya.
Produser Eksekutif TVMu Arina Nurrohmah mengamini jika penonton televisi, khususnya di Indonesia, kian berkurang. Musababnya karena kemudahan masyarakat mengakses media sosial.
 “Siapapun bisa memproduksi berita dan mempublikasikan di media sosial,” ujar Arina saat mengisi pelatihan jurnalistik dalam Pesantren Digital Ramadan di Pondok Pesantren KH Mas Mansur, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (22/3).
Kendati akses memproduksi berita kian mudah, Arina mempersoalkan kredibilitas warganet yang mewartakan berita tersebut.
“Apakah mereka mengetahui kadiah pemberitaan? Itu perlu pengawasan khusus,” imbuhnya.
Tidak mengherankan jika media pemberitaan saat ini mulai membuka divisi baru yang khusus mengelola media sosial. Tujuannya untuk mengintegrasikan pemberitaan di semua platform, termasuk media sosial.
Jika dulu stasiun televisi hanya menggunakan media sosial untuk promosi dan branding perusahaan, belakangan ramai stasiun televisi yang menggunakan media sosial untuk mempublikasikan berita secara utuh.
Tak jarang stasiun televisi yang menayangkan siaran langsung yang dapat diakses publik secara gratis. Menurut Arina, perubahan yang begitu cepat harus ditangkap secara maksimal oleh televisi.
“Sekarang perkembangan teknologi membuat proses produksi berita jadi lebih fleksibel,” sambung alumni Ilmu Komunikasi UMS itu.
Di sisi lain, media sosial justru mendorong perubahan perilaku para jurnalis agar dapat menjangkau audiens baru dari kalangan Gen-Z dan Gen Alpha.
Misalnya, dengan membuat konten “A Day In My Life as A Journalist” yang mulai dilakukan sejumlah pewarta dan diunggah ke dalam TikTok atau Instagram Reels.
Bahasa gaul pun mulai jamak dilakukan untuk memberi kedekatan dengan generasi muda. Jurnalis yang selama ini dianggap kaku dapat lebih luwes dan cair dengan pendekatan tersebut.
Bahkan sejumlah tayangan berita di televisi pun mulai menggunakan istilah-istilah viral. Seperti “ubur-ubur ikan lele” atau sejenisnya.
“Kalau menggunakan bahasa yang rumit, akan sulit dipahami Gen-Z dan Gen Alpha,” kata Arina.
Arina menyebut media pemberitaan harus terus melakukan adaptasi. Namun, ada saat di mana televisi kembali menjadi satu-satunya sumber informasi terpercaya.

Related posts

Leave a Comment